Rabu, 30 September 2009

Arti lain "Jins" dan "Ins"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

   

KISAH-KISAH MONUMENTAL 

  DALAM AL-QURAN


Arti Lain Jin dan Ins
 oleh 

Ki Langlang Buana Kusuma

Dengan demikian jelaslah bahwa penggunaan kata syaitan, jin dan ins (manusia) dalam ayat-ayat Al-Quran, tidak harus diartikan 2 macam makhluk yang berlainan, yakni (1) makhluk halus yang disebut syaitan dan jin, dan (2) manusia (ins), melainkan kata syaitan pun digunakan pula terhadap setiap wujud yang menimbulkan mudharat (bahaya), termasuk manusia yakni para pemimpin kekafiran (Qs.2:15; Qs.22:53-54).
Ada pun penggunaan kata jin dan ins mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, yang dibedakan atas dasar kedudukannya atau statusnya di lingkungan masyarakat mereka, misalnya ins mengisyaratkan kepada orang-orang awam, rakyat jelata, kaum buruh, para pengikut, dll, sedangkan jin -- berdasarkan artinya yang berhubungan dengan makna “ketersembunyian”, seperti kata janin, junnatan (perisai/tameng - Qs.58:17; Qs.63:3), jinnatin (orang gila/yang dirasuki jin - Qs.7:185; Qs.23:26, 71; Qs.34:9, 47), jannah (kebun/surga), dll -- dikatakan kepada:
(1) Orang-orang besar -- yakni para pemuka kaum dan para pemuka agama -- yang umumnya hidup memisahkan diri (terpisah) dari rakyat jelata (orang awam), dan “orang-orang besar” tersebut tidak berbaur dengan kalangan “rakyat jelata” (orang-orang awam), sehingga “orang-orang besar” itu boleh dikatakan tersembunyi dari penglihatan umum, dan karena “ketersembunyian” kehidupan mereka itulah maka mereka disebut juga jin (Qs.2:117; Qs.6:101; Qs.9:30-33; Qs.10:19).
(2) Golongan kapitalis atau penganut paham kapitalisme, yang keadaannya bertentangan dengan golongan proletar (golongan buruh) atau penganut paham sosialisme -- yakni golongan ins -- dalam hal ini masing-masing diwakili oleh negara-negara blok Barat yang dipimpin oleh Inggris dan Amerika Serikat dan negara-negara blok Timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet (sekarang Rusia) dan China. (Qs.55:34-37).
(3) Orang-orang Yahudi yang secara sembunyi-sembunyi di malam hari bertemu dengan Nabi Besar Muhammad saw. di luar kota Mekkah untuk mendengarkan wahyu Al-Quran yang diturunkan Allah Ta’ala kepada beliau saw. (Qs.46:30-33) atau mengisyaratkan kepada orang-orang Kristen yang mempercayai Tauhid dan kemudian beriman kepada beliau saw.(Qs.72:2-10).
(4) Orang-orang asing yang bukan bangsa Arab, (Lexicon Lane), sebab Nabi Besar Muhammad saw. diutus sebagai Rasul Allah bukan hanya untuk bangsa Arab saja melainkan juga untuk seluruh bangsa-bangsa yang bukan bangsa Arab, yakni untuk seluruh umat manusia (Qs.7:159; Qs.21:108; Qs.25:2; Qs.34:29).
Dari golongan jin inilah munculnya para pemimpin kekafiran yang mendustakan dan menentang keras para Rasul Allah dari zaman ke zaman, yaitu iblis yang menolak “sujud” kepada Adam, itulah sebabnya Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa iblis berasal dari golongan jin (Qs.18:51), yang juga diciptakan dari api (Qs.15:28; Qs.7:13; Qs.38:77; Qs.55:15), firman-Nya:
Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu untuk Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia dari [golongan] jin, Maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). Apakah kamu hendak mengambil dia dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat (pelindung-pelindung) selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Amat buruk pertukaran itu bagi orang-orang yang zalim. Aku tidak pernah membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi, dan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri, dan tidak dapat Aku ambil (menjadikan) mereka yang menyesatkan [orang-orang] sebagai pembantu. (Al-Kahf [18]:51-52).

Pertengkaran antara Jin dan Ins (manusia) di Akhirat

Kenyataan sejarah keagamaan membuktikan, bahwa para Utusan-utusan Ilahi (Rasul-rasul Allah) tak pernah dibangkitkan (diutus) dari antara golongan makhluk halus yang disebut jin, melainkan menurut Al-Quran pengutusan para rasul Allah tersebut senantiasa dari kalangan malaikat dan manusia, firman-Nya:
Allah senantiasa memilih rasul-rasul dari kalangan malaikat-malaikat dan naas (manusia). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat (Al-Hajj [22]:75).
Oleh karena itu yang dimaksud dengan pengutusan para rasul Allah dari golongan jin dalam ayat berikut I pun sama sekali tidak merujuk kepada golongan makhluk halus yang disebut jin melainkan mengisyaratkan kepada dua golongan manusia yang berdasarkan perbedaan keadaan statusnya sosialnya di masyarakat disebut jin dan ins, firman-Nya:
Hai golongan jin dan ins (manusia), tidakkah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan kepada kamu Tanda-tanda-Ku dan memperingatkan kamu mengenai pertemuan pada harimu ini? Mereka akan berkata, “Kami menjadi saksi atas diri kami.” Dan kehidupan dunia telah memperdayakan mereka, dan mereka telah menjadi saksi atas diri mereka sendiri sesungguhnya mereka dahulunya orang-orang kafir. Yang demikian itu karena Rabb (Tuhan) engkau tidak pernah membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya dalam keadaan lalai (Al-An’aam [6]:131-132).
Firman-Nya lagi:
Dan [ingatlah] hari ketika Dia akan menghimpun mereka semua, [seraya berfirman], "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah menarik banyak ins!" Dan teman-teman mereka dari antara ins akan berkata, "Hai Rabb (Tuhan) kami, sebagian kami telah mengambil keuntungan dari sebagian lainnya, tetapi kami telah sampai kepada jangka waktu kami yang telah Engkau tetapkan bagi kami.” Dia berfirman, "Api itulah tempat tinggalmu, kamu akan tinggal kekal di dalamnya, kecuali apa yang dihendaki Allah." Sesungguh­nya Rabb (Tuhan) engkau Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan teman sebagian orang­-orang yang zalim bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang telah mereka usahakan. (Al-An’aam [6]:129-130).
Ma'syar berarti segolongan orang yang mempunyai urusan dan kepentingan yang sama (Lexicon Lane). Dalam ayat ini kata jin dalam kalimat yaa ma’syaral-jinni jelas menunjukkan orang-orang besar dan orang-orang kuat sebagai lawan kata ins, yakni golongan orang-orang lemah dan miskin. Dan kalimat “qadis-taktsartum minal- insi -- sungguh kamu telah menarik banyak ins (manusia)” dapat diartikan:
(1) Kamu telah menawan hati banyak dari antara khalayak ramai sehingga mereka berpihak kepadamu dan membuat mereka mengikuti kamu.
(2) Kamu telah memeras mereka.
(3) Kamu telah menganggap khalayak ramai sangat penting; yakni kamu tidak menerima kebenaran Rasul Allah karena takut jangan-jangan massa tidak akan mengikut kamu lagi.
Sebagaimana halnya ins (orang-orang lemah/awam) tidak menerima kebenaran Rasul Allah karena takut terhadap jin (orang-orang besar), seperti itu pula halnya jin (orang-orang besar) kadang-kadang mereka takut terhadap pengikut-pengikut mereka dari kalangan ins, dan mereka tidak menerima kebenaran Rasul Allah karena takut kalau-kalau para pengikut mereka dari golongan ins akan meninggalkan mereka.
Ayat ini memberikan bukti lagi atas kenyataan bahwa kata jin di sini hanya berarti satu golongan manusia, yaitu orang-orang besar dan orang-orang berpengaruh sebab hanya segolongan manusia sajalah yang biasa memeras-tenaga golongan manusia lainnya. Sedangkan jin -- sebagai makhluk lain (makhluk halus) yang bukan-manusia -- tak pernah memperbudak manusia.
Penganut Paham Kapitalisme dan Sosialisme

Contoh mengenai hal itu adalah munculnya dua blok besar bangsa-bangsa yang sebelumnya mereka saling memberi manfaat dan keuntungan -- yakni golongan majikan (pemilik modal/kapital) dan golongan buruh (pekerja) -- tetapi kemudian golongan yang berbeda status sosial tersebut berubah menjadi lawan sengit yang saling berhadapan, yakni blok golongan jin yang menganut paham kapitalisme, dan blok golongan ins yang menganut paham sosialisme, firman-Nya:
Hai golongan jin dan ins! Andaikata kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-­batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah. Namun kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang kamu dustakan? Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api dan leburan tembaga maka kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri. (Ar-Rahmaan [55]:34-36).
Ayat ini telah diberi bermacam-macam penafsiran. Menurut suatu penafsiran, bahwa para ilmuwan dan para ahli filsafat yang membanggakan diri tentang kemajuan besar dalam bidang ilmu duniawi yang telah dicapai kedua blok golongan manusia tersebut telah diberitahu, bahwa kendati pun betapa besarnya kemajuan yang mungkin telah dicapai mereka dalam pengetahuan dan ilmu, mereka tidak dapat memahami semua hukum alam yang mengatur alam semesta ini dengan sepenuhnya. Betapa pun mereka berusaha, mereka tidak akan berhasil dalam pencarian mereka.
Menurut penafsiran lain, Allah Ta’ala dengan ayat ini memperingatkan orang-orang berdosa, "Biarkanlah mereka memberanikan diri menembus batas-batas seluruh langit dan bumi, mereka tidak akan mampu menentang hukum-hukum Ilahi tanpa mendapat hukuman, dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri dari azab Ilahi.
Ayat ini dapat juga mengisyaratkan kepada pembuatan roket-roket, sputnik-sputnik, dan sebagainya; dengan alat-alat tersebut orang-orang Rusia dan Amerika berusaha mencapai benda-benda langit. Mereka diberitahu, bahwa paling-paling mereka hanya akan dapat mencapai beberapa planet terdekat dari bumi, tetapi jagat-raya kepunyaan Allah Ta’ala tidak mungkin dapat dijelajahi seluruhnya.
Ayat ini pun menunjuk kepada azab paling dahsyat lagi menakutkan, yang akan menimpa kedua blok yang bermusuhan itu, yakni bangsa-bangsa penganut paham Kapitalisme (jin) dan Sosialisme (ins). Dunia rupa-rupanya berdiri di tepi jurang api yang berkobar-kobar dengan dahsyat dan nyala apinya mengancam akan menghanguskan seluruh peradaban manusia, dan peringatan Allah Ta’ala tersebut telah dimulai dengan Perang Dunia I dan II, sedangkan Perang Dunia III -- yakni perang dengan senjata nuklir serta senjata-senjata penghancur mutakhir lainnya -- hanya tinggal menunggu waktu saja.

(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar