Jumat, 18 September 2009

Perbedaan Iblis dengan Syaitan & Berbagai Tipu-Daya Syaitan

 

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

   

KISAH-KISAH MONUMENTAL 

  DALAM AL-QURAN

   Perbedaan Iblis dengan Syaitan &
Berbagai Tipu-Daya Syaitan    
  
oleh 
Ki Langlang Buana Kusuma


Selanjutnya Allah Ta’ala memperingatkan Nabi Adam a.s. dari bahaya tipu-daya syaitan, karena sudah merupakan Sunnatullah, bahwa siapa pun yang berupaya menegakkan suatu tertib baru dalam bidang apa pun, maka pihak-pihak yang sudah mapan dalam tertib lama pasti akan mengadakan perlawanan dan akan berusaha -- dengan segala cara -- untuk menggagalkan penegakkan tertib baru, karena mereka anggap penegakkan tertib baru tersebut akan sangat merugikan kemapanan hidup mereka selama itu, firman-Nya:
Akan tetapi syaitan telah menggelincirkan keduanya dari tempat itu dan ia mengeluarkan keduanya dari keadaan mereka semula. Dan Kami berfirman, "Pergilah kamu dari sini, sebagian dari kamu adalah musuh bagi yang lain, dan bagimu di bumi ini ada tempat kediaman dan bekal hidup sampai suatu masa tertentu. (Al-Baqarah [2]:37).
Kalimat pertama dalam ayat ini berarti bahwa, suatu wujud atau seseorang yang bersifat syaitan membujuk Adam dan istrinya keluar dari tempat mereka itu ditempatkan (jannah) dan dengan demikian menjauhkan mereka dari kesenangan yang dinikmati mereka.
Seperti diterangkan dalam Qs.2:35 makhluk yang menipu dan menjerumuskan Adam ke dalam kesusahan itu ialah syaitan dan bukan iblis, yang dituturkan menolak sujud kepada (mengkhidmati) Adam. Jadi, syaitan di sini tidak menunjuk kepada iblis, tetapi kepada seseorang lain dari kaum di zaman Adam yang adalah musuhnya. Kesimpulan ini selanjutnya didukung oleh Qs.17:66, yang menurut ayat itu iblis tidak mempunyai daya apa-apa terhadap Adam.
Kata syaitan mempunyai arti lebih luas daripada iblis sebab iblis itu nama yang diberikan kepada ruh jahat sang termasuk golongan jin dan yang menolak sujud kepada (mengkhidmati) Adam a.s., dan yang kemudian iblis menjadi pemimpin dan wakil kekuatan-kekuatan jahat di alam semesta.
Syaitan itu, tiap-tiap wujud atau sesuatu yang jahat dan berbahaya baik itu berupa ruh atau manusia atau binatang atau penyakit atau tiap sesuatu yang lain. Jadi, iblis itu "syaitan", demikian pula kawan-kawan iblis dan sekutu-sekutunya pun `”syaitan" pula; nusuh-musuh kebenaran pun syaitan, orang-orang jahat juga syaitan, binatang-binatang yang memudaratkan dan penyakit-penyakit berbahaya pun syaitan pula. Al-Quran, hadits, dan pustaka Arab penuh dengan contoh-contoh, di berbagai tempat kata syaitan dengan bebasnya dipergunakan mengenai sesuatu atau segala sesuatu tu.
Al-Quran sekali-kali tidak mendukung ide bahwa seseorang dapat naik ke langit hidup-hidup, sebab kalimat dalam ayat ini -- “dan bagimu di bumi ini ada tempat kediaman dan bekal hidup sampai suatu masa tertentu” -- dengan tegas menetapkan bumi sebagai tempat tinggal manusia seumur hidupnya, dan menolak ide bahwa Yesus, atau siapa pun pernah naik ke langit dalam keadaan hidup.
Dalam firman-Nya berikut ini dijelaskan mengenai bentuk tipu-daya syaitan yang telah menggelincirkan Adam dan istrinya, yaitu bahwa larangan Allah Ta’ala jangan mendekati “pohon” tersebut adalah supaya Adam dan istrinya jangan menjadi malaikat atau jangan menjadi orang yang hidup kekal, firman-Nya:
Tetapi syaitan mem­bisikkan waswas kepada kedua mereka itu agar ia dapat menampakkan kepada kedua mereka itu apa yang tersembunyi dari kedua mereka itu, aurat mereka dan ia berkata, "Tidak lain Rabb-mu (Tuhan-mu) melarang kamu berdua dari pohon ini agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal." Dan ia (syaitan) bersumpah kepada kedua mereka itu, "Sesungguhnya aku penasihat bagi kamu berdua." Maka ia (syaitan) menjerumuskan kedua mereka itu dengan tipu-daya. Lalu tatkala kedua mereka itu merasakan (mencicipi) buah pohon itu, tampak­lah kepada mereka aurat (kelemahan) mereka, dan mulailah mereka berdua me­nutupi diri mereka dengan daun­-daun jannah. Dan kedua mereka itu diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka, "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu, dan Aku katakan kepadamu berdua, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Mereka berdua berkata, "'Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, pasti kami akan termasuk orang­-orang yang rugi." (Al-A’raaf [7]:21-24).

Hakikat Terbukanya Aurat Adam dan Istrinya &
Auraq (Daun-daun Surga)

Apabila dalam suatu jamaah atau umat telah timbul perselisihan dan pertentangan yang menjurus kepada perpecahan, maka hal tersebut dapat misalkan sebagai terbukanya aurat, yakni timbulnya berbagai bentuk kelemahan dalam jamaah atau umat tersebut (Qs.3:103-110; Qs. 4:60; Qs.8:21-23 & 46-47; Qs.24:52-57).
Jadi, yang dimaksud aurat di sini bukanlah kemaluan dan bagian-bagian tubuh manusia yang harus ditutupi dengan pakaian karena termasuk aurat, melainkan maksudnya adalah berbagai kelemahan manusiawi yang sebelumnya tidak diketahui oleh manusia, termasuk Adam a.s. dan istinya. Aurat (kelemahan) tersebut baru muncul dan diketahui pada saat manusia (seseorang) mengalami ujian.
Oleh karena itu tidak benar anggapan bahwa setelah Adam a.s. dan istrinya memakan buah pohon terlarang tiba-tiba pakaian keduanya terlepas sehingga nampaklah aurat -- yakni kemaluan -- mereka, melainkan maksudnya adalah timbulnya berbagai kelemahan di dalam komunitas (umat) Nabi Adam a.s. berupa perselisihan di antara para pengikutnya karena mereka berhasil diprovokasi oleh syaitan.
Dalam Bible diterangkan bahwa tipu-daya yang dilakukan syaitan tidak langsung kepada Adam a.s. melainkan kepada istri beliau, dan istri pun bermakna pengikut atau kaum (Qs.66:11). Jadi melalui para pengikut Adam a.s. itulah syaitan melakukan provokasinya, sehingga ketika di kalangan para pengikut Nabi Adam a.s. telah mulai terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan maka agar jangan sampai terjadi peristiwa yang dianggap akan lebih parah lagi maka Nabi Adam a.s. terpaksa menerima "nasihat dusta" syaitan tersebut. Tetapi ternyata keputusan yang terpaksa dilakukan oleh Nabi Adam a.s. tersebut terbukti keliru.
Jadi, mengisyaratkan kepada akibat "kekeliruan mengambil keputusan" itulah yang dimaksud dengan terbukanya "aurat" Nabi Adam a.s. dan "istrinya", yakni perselisihan dan pertentangan di kalangan pengikut beliau telah semakin menjadi-jadi., firman-Nya:
Dan sesungguhnya telah Kami adakan perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa, dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad [untuk mendurhakai Kami] (Thaa Haa [20]:116). Oleh karena itu dalam masalah kekeliruan Nabi Adam a.s. tersebut sama sekali tidak menimbulkan dosa, yang terjadi hanyalah hilangnya ketentraman hidup yang dinikmati sebelumnya.
Ada pun cara Nabi Adam a.s. untuk membina kembali jamaah atau umat beliau tersebut adalah berupaya menghimpun kembali para pengikut beliau yang setia, yang dalam ayat tersebut digambarkan bahwa Nabi Adam a.s. dan istrinya menutup aurat keduanya dengan waraq (auraq) yakni “daun-daun surga”.
Waraq berarti bagian terbaik lagi segar dari sesuatu; kaum muda dalam masyarakat (Lisan-ul-‘Arab), menunjukkan bahwa tatkala syaitan berhasil menimbulkan perpecahan dalam masyarakat Adam a.s. dan beberapa anggota jemaat beliau yang lemah telah keluar dari lingkungan itu, maka beliau menghimpun auraq (daun-daun) dari kebun itu, yakni pemuda-pemuda dalam jemaat itu, dan mulai mempersatukan serta menertibkan kembali kaumnya (jamaahnya) dengan pertolongan mereka, sebab pada umumnya para pemuda itulah -- yang disebabkan kebanyakan mereka bebas dari prarasa-prarasa dan prasangka-prasangka -- mereka mengikuti dan menolong nabi-nabi Allah (Qs.10:84).
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, makhluk yang dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak sujud kepada Adam a.s. disebut iblis, sedang makhluk yang menggodanya disebut syaitan. Perbedaan ini tidak hanya nampak dalam ayat yang sedang ditafsirkan, akan tetapi dalam semua ayat yang berhubunglan dengan masalah itu dalam seluruh Al-Quran. Ini menunjukkan bahwa sejauh hal yang menyangkut kisah ini, syaitan dan iblis itu dua pribadi yang berlainan.
Pada hakikatnya, kata syaitan tidak hanya digunakan terhadap ruh-ruh jahat saja, tetapi juga terhadap manusia yang, disebabkan oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka, seolah-olah menjadi penjelmaan syaitan. Syaitan yang menggoda Adam a.s. dan menyebabkan beliau tergelincir bukanlah ruh jahat yang tidak nampak, melainkan wujud manusia yang berdaging dan berdarah, sifatnya jahat, yakni syaitan dari antara manusia, penjelmaan syaitan dan tangan-tangan iblis.
Ia (syaitan) termasuk anggota keluarga (suku) yang mengenainya Adam a.s. telah diperintahkan supaya menghindar. Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa nama orang itu Harits (Tirmidzi, bab tafsir), hal itu merupakan satu bukti lagi bahwa syaitan yang menipu Adam a.s. dan istrinya adalah seorang manusia dan bukan ruh jahat.
Adam a.s. segera menyadari kekeliruan beliau telah mengabulkan nasihat palsu syaitan melalui istrinya -- yakni telah ia telah berhasil menimbulkan perselisihan dan di lingkungan para pengikut Adam a.s. -- beliau lalu cepat-cepat kembali rujuk yakni bertaubat kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya kesalahan Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa manusia syaitan itu bermaksud baik, sungguh pun Allah Ta’ala telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang itu.
Dalam ayat berikut ini tipu-daya yang dikemukakan syaitan kepada Adam a.s. dan istrinya adalah cara-cara untuk memperoleh “pohon kekekalan” dan “kerajaan yang tidak akan binasa”, firman-Nya:
Maka syaitan membisik­kan was-was kepadanya. Ia ber­kata, "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaa Haa [20]:121).
Di dunia ini tidak terdapat syajarah (pohon) yang disebut pohon khuld (pohon kekekal­an). Pohon seperti yang disebut di sini dan di tempat-tempat lain dalam Al-Quran adalah keluarga atau suku tertentu (Qs.17:61), dan Adam dinasihati agar menjauhkan diri dari mereka, karena anggota-anggota keluarga atau warga suku itu adalah musuhnya.

Arti Lain Syajarah (Pohon) dalam Jannah

Syajarah (pohon) dapat juga diartikan perintah-perintah yang menetapkan beberapa benda tertentu dilarang bagi Adam dan istrinya. "Kalimah yang baik" diumpamakan sebagai "pohon baik" dalam Al-Quran (Qs.14:25) dan "kalimah buruk" sebagai "pohon jahat" (Qs. 14:27). Sementara pikiran-pikiran jahat pada akhirnya menjuruskan seseorang kepada kehancuran, maka pikiran-pikiran jahat itu pun menampakkan kepada dia kelemahan-kelemahan dirinya.
Karena tempat ketika Adam a.s. disuruh tinggal digambarkan secara tamsil (perumpamaan) dalam Al-Quran sebagai jannah (kebun), oleh sebab itu dalam gambaran berikutnya tamsil itu dilanjutkan. Adam a.s. digambarkan sebagai dilarang mendekati pohon tertentu, yang bukan pohon dalam arti kata harfiah dan fisik, melainkan suatu keluarga atau suku tertentu.
Syajarah juga artinya kaum, misalnya orang-orang Yahudi -- yang berkali-kali melakukan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala dan para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan (Qs.2:88-89) -- mereka telah disebut syajarah ma’unah (pohon terkutuk), firman-Nya:
Dan ingatlah ketika Kami mengatakan kepada engkau, "Se­sungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung umat manusia [de­ngan kebinasaan], dan tidaklah Kami jadikan rukya yang telah Kami perlihatkan kepada engkau melainkan sebagai ujian bagi manusia, dan begitu pula pohon terkutuk dalam Al-Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka tetapi itu tidak menambah kepada mereka kecuali kedurhakaan amat besar. (Bani Israil [17]61).
Kaum Yahudi telah berulang kali disebut dalam Al-Quran bahwa mereka dikutuk oleh Allah Ta’ala (Qs.5:14, 61, 65) dan juga dikutuk oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa ibnu Maryam (Qs.5:79). Kutukan Allah Ta’ala telah mengejar-ngejar kaum yang malang ini semenjak Nabi Daud a.s. sampai di akhir zaman ini (Qs.2:62; Qs.3:113; Qs.7:168).
Kepada Adam pun diperintahkan supaya menjauhi keluarga atau suku itu, sebab anggota-anggota keluarga atau suku tersebut adalah musuh beliau dan mereka itu niscaya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencelakakan beliau. Akan tetapi syaitan berhasil melakukan tipu-daya terhadap Adam a.s. dan istrinya (jamaahnya) , sehingga “aurat” yakni kelemahan-kelemahan keduanya -- yang sebelumnya tersembunyi -- menjadi nampak kepada mereka.
Kata sayy'ah yang berarti: (a) tiap ucapan atau kebiasaan atau perbuatan jahat, kotor, tidak senonoh atau menjijikkan yang orang biasanya ingin menyembunyikan; (b) aurat; (c) ketelanjangan (Lexicon Lane), di sini dipergunakan dalam artian aurat atau kelemahan, sebab tidak ada ‘aurat (kelemahan) manusia yang tersembunyi dari syaitan.
Beberapa kelemahan Adam sungguh tersembunyi dari beliau, dan beliau baru menyadari (mengetahui) hal itu ketika musuh-musuh berhasil membujuk beliau keluar dari kedudukan beliau yang aman. Tiap-tiap orang mempunyai beberapa kelemahan tertentu yang bahkan tersembunyi dari dirinya sendiri, tetapi, menjadi terbuka pada saat genting dan tegang, atau bila ia digoda dan dicoba.
Jadi, barulah ketika Adam a.s. tergoda dan terpedaya oleh syaitan beliau menjadi sadar akan beberapa kelemahan fitrinya. Al-Quran tidak mengatakan bahwa kelemahan Adam a.s. dan istri beliau diketahui orang lain, melainkan mereka sendiri menjadi sadar akan kelemahan-kelemahan mereka itu, firman-Nya:
Maka keduanya telah makan darinya, maka nyatalah (nampaklah) bagi mereka berdua kelemahan­-kelemahan mereka, dan ke­duanya menutupinya dengan daun-daun surga. Dan Adam telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya) maka ia menderita. Kemudian Rabb-nya (Tuhan-nya) memilih dia maka Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk. (Thaa Haa [20]122-123].
Berikut firman Allah Ta’ala yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan aurat berkenaan Adam a.s. dan istrinya maksudnya adalah kelemahan-kelemahan manusiawi, bukan kemaluan keduanya, sebagaimana yang telah keliru dipahami oleh umumnya orang yang menafsirkan ayat tersebut.
Kenapa demikian? Sebab apabila yang dimaksudkan adalah kemaluan Adam a.s. da istrinya maka kata yang digunakan bukan ‘aurat melainkan furuuj (Qs.24:31-32), berasal dari kata faraja yang artinya adalah antara lain celah atau sela-sela (celah-celah) atau lubang. Dengan demikian yang dimaksud dengan furuuj manusia meliputi: kemaluan, mata, telinga, hidung dan lain-lain, yang melaluinya dapat menimbulkan perbuatan dosa. Furuuj itulah yang diperintahkan Allah Ta’ala agar orang-orang laki-laki dan perempuan beriman harus menjaganya (Qs.24:31-32).
Sehubungan dengan kata ‘aurat -- yang berarti kelemahan atau aib yang tersembunyi -- tersebut, berikut adalah alasan yang dikemukakan orang-orang munafik meninggalkan Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam menjelang perang Ahzab, firman-Nya:
Dan ketika segolongan dari mereka berkata, “Hai penduduk Yatsrib, kamu tidak akan dapat bertahan [terhadap musuh], oleh karena itu kembalilah kamu.” Dan segolongan mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka [terhadap serangan musuh]”, padahal rumah mereka itu [sebenarnya] tidak terbuka. Mereka hanya berusaha melarikan diri (Al Ahzab [33]:14).
Mereka beralasan bahwa rumah-rumah mereka ‘aurat -- yakni terbuka dari serangan musuh -- padahal hanyalah alasan mereka saja untuk tidak ikut terlibat dalam perang Ahzab, yang menurut mereka umat Islam pasti akan dihancurkan oleh pasukan Ahzab (golongan persekutuan).

(Bersambung)
 Rujukan: The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid


Tidak ada komentar:

Posting Komentar