Jumat, 02 Oktober 2009

Sikap Buruk Bani Israil kepada Nabi Musa a.s. dan kepada Orang-orang Pilihan Allah Swt.

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 

  KISAH-KISAH MONUMENTAL 

  DALAM AL-QURAN


 Sikap Buruk bani Israil kepada Nabi Musa a.s. dan Kepada
Orang-orang Pilihan Allah Swt. 

oleh  


Ki Langlang Buana Kusuma

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang telah menyusahkan Musa, tetapi Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan, dan ia (Musa) di sisi Allah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat. (Al Ahzab [33]:70).

Dari Bible mau pun Al-Quran diketahui bahwa umumnya orang-orang dari kalangan Bani Israil merupakan orang-orang yang tidak tahu bersyukur dan sering kali melakukan hal-hal yang menyakitkan hati para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka, termasuk terhadap Nabi Musa a.s., bahkan mereka berusaha membunuh Nabi Daud a.s. di mihrab beliau secara diam-diam (Qs.38:22-27) dan juga berusaha membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (Qs.4:158-159), firman-Nya:
Dan [ingatlah] ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu mengetahui sesungguhnya aku Rasul Allah yang diutus kepada kamu sekalian?" Maka apabila mereka menyimpang [dari jalan benar], Allah pun menyebabkan hati mereka menyimpang. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasiq (Ash-Shaf [61]:6).
Mungkin tiada nabi Allah yang begitu banyak menderita kepedihan hati karena perbuatan para pengikutnya selain Nabi Musa a.s.. Kaum Nabi Musa a.s. telah menyaksikan lasykar Firaun tenggelam di hadapan mata kepala mereka sendiri, namun demikian baru saja mereka melintasi lautan, mereka telah mencoba lagi kembali kepada kemusyrikan, dan karena mereka melihat suatu kaum penyembah berhala, mereka meminta kepada Nabi Musa a.s. membuatkan bagi mereka berhala semacam itu juga (Qs.2:51-60; Qs.7:139).
Ketika mereka disuruh bergerak memasuki Kanaan, negeri yang telah dijanjikan Allah Ta’ala akan diberikan kepada mereka, namun sambil mencemoohkan dan dengan tidak punya malu mereka mengatakan kepada Nabi Musa a.s. agar beliau sendiri pergi bersama Allah Ta’ala yang amat dipercayai beliau, mereka tidak mau bergerak barang satu tapak pun dari tempat mereka bermukim, sehingga Allah Ta’ala mengharamkan “negeri yang dijanjikan” tersebut kepada mereka selama 40 tahun (Qs.5:21-27), sehingga semua generasi tua mereka yang pengecut mati di padang pasir, lalu muncul generasi penerus mereka yang berjiwa ksatria akibat tempaan kehidupan yang keras di padang pasir, dan di bawah pimpinan Yusak (Yosua) bin Nun mereka bergerak menuju “tanah yang dijanjikan” (Qs.2:244).
Jadi, Nabi Musa a.s. -- dalam usaha beliau memanggil mereka kembali dari kemusyrikan -- berkali-kali dihina dan dikecewakan oleh kaum yang justru telah diselamatkan beliau dari penindasan perbudakan para Firaun itu. Mereka malahan mengumpat dan memfitnah beliau, firman-Nya:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang telah menyusahkan Musa, tetapi Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan, dan ia (Musa) di sisi Allah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat. (Al Ahzab [33]:70).
Aadzahu berarti ia melakukan atau mengatakan apa yang tidak disenanginya atau apa yang dibencinya, menganggu atau menjengkelkan atau melukai perasaan dia.
Nabi Musa a.s. telah dijadikan sasaran fitnah-fitnah berat, antara lain: (1) Qarun (Korah) menghasut seorang perempuan untuk mengada-adakan tuduhan terhadap Nabi Musa a.s. bahwa beliau pernah mengadakan hubungan gelap dengan dirinya. (2) Karena timbul iri hati melihat semakinn meningkatnya pengaruh Nabi Harun a.a. di tengah kaum beliau maka Nabi Musa a.s. dituduh berusaha membunuh Nabi Harun a.s., (3) Nabi Musa a.s. dituduh mengidap penyakit lepra dan syphilis (rajasinga), (4) Samiri menuduh beliau berbuat syirik, (5) Adik perempuan Nabi Musa a.s., Miryam, sendiri melemparkan turuhan palsu terhadap beliau (Bilangan 12:1). .
Perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang-orang durhaka di kalangan Bani Israil tersebut dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
Dan sungguh Kami benar-benar telah memberikan Al-Kitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya, dan Kami memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus. Maka apakah setiap kali datang kepada kamu seorang rasul yang tidak disukai oleh dirimu, kamu berlaku takabbur dan sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata, “Hati kami tertutup!” Tidak demikian, bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka, maka sedikit sekali mereka beriman (Al-Baqarah [2]:88-89).

Kedengkian Para Pemuka Bani Israil
Kepada Thalut

Peristiwa pengulangan kedengkian atau ketakaburan Iblis kepada Adam lainnya yang terjadi di kalangan Bani Israil adalah peristiwa pengangkatan Thalut (Gideon) sebagai raja bagi Bani Israil, firman-Nya:
Tidakkah engkau memperhatikan ihwal para pe­muka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, "Angkatlah bagi kami seorang raja, supaya kami dapat berperang di jalan Allah." Ia (nabi itu) berkata, "Apakah barangkali kamu tidak akan ber­perang jika berperang diwajibkan atasmu?" Mereka berkata mereka, "Mengapakah kami tidak akan berperang di jalan Allah sedangkan kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak­-anak kami?" Tetapi tatkala diwajibkan atas mereka ber­perang, berpalinglah mereka kecuali sedikit dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim. (Al-Baqarah [2]:247).
Peristiwa tersebut menunjukkan kemajuan dalam keadaan kaum Bani Israil pada saat seperti dituturkan ayat ini dibandingkan dengan zaman Nabi Musa a.s. sendiri. Dalam Qs.5:25 Al-Quran menuturkan bahwa ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan pengikut-pengikut beliau untuk melawan musuh di jalan Allah, mereka menjawab: “Pergilah engkau bersama Tuhan engkau, kemudian berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!” Sebaliknya dalam ayat ini mereka disebutkan telah berkata: “Mengapakah kami tidak akan berperang di jalan Allah sedangkan kami telah diusir dari rumah­-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?”
Tetapi perbaikan sikap itu hanya di mulut saja dan tidak dalam kenyataan, sebab ketika saat pertempuran yang sebenarnya tiba, banyak dari antara mereka bimbang dan menolak untuk bertempur. Dengan demikian, peristiwa itu merupakan peringatan keras kepada kaum Muslimin untuk waspada agar jangan menempuh jalan (sikap) yang serupa itu.
Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman mengenai keberatan (protes) para pemuka Bani Israil atas pengangkatan Thalut sebagai raja bagi Bani Israil:
Dan, berkata nabi me­reka kepada mereka, "Sesungguh­nya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja bagimu." Mereka berkata: "Bagaimana ia bisa mempunyai kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak mempunyai kedaulatan daripadanya, dan ia tidak diberi harta yang berlimpah?" Ia (nabi itu) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya atasmu dan melebihkannya dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan." Dan Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui. Dan berkata nabi me­reka kepada mereka, "Sesungguh­nya tanda kedaulatannya ialah, akan datang kepadamu suatu Tabut yang di dalamnya mengandung ketenteraman dari Tuhan-mu dan harta pusaka yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan keluarga Harun yang dipikul oleh malaikat­-malaikat. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu Tanda bagimu, jika kamu orang-orang beriman." (Al-Baqarah [2]:248-249).

Thalut adalah Gideon, bukan Saul

Thalut adalah nama sifat seorang raja Bani Israil yang hidup kira-kira dua ratus tahun sebelum Nabi Dawud a.s. dan kira-kira sejumlah tahun yang sama sesudah Nabi Musa a.s.. Beberapa ahli tafsir Alquran telah keliru mempersamakan Thalut dengan Saul. Penjelasan Al-Quran lebih cocok dengan Gideon (Hakim-hakim fasal-fasal 6-8) daripada dengan Saul.
Gideon hidup kira- kira 1250 sebelum Masehi dan Bible menyebutnya "pahlawan yang perkasa" (Hakim-hakim 6:12) tiada lain melainkan Thalut. Menurut sementara penulis Kristen, peristiwa yang dituturkan dalam bagian ini menunjuk kepada dua masa yang berlainan, terpisah satu sama lain oleh masa-antara yang rentangannya 200 tahun, dan — menurut mereka — menunjuk kepada bagian ini sebagai contoh anachronisme (pengacauan waktu) sejarah yang terdapat dalam Alquran.
Bagian ini memang betul menunjuk kepada dua masa yang berlainan, tetapi tiada anachronisme (pengacauan waktu) di dalamnya. Al-Quran menunjuk di sini kepada kedua masa itu. Tujuan berbuat demikian ialah untuk melukiskan bagaimana mulainya proses mempersatukan berbagai suku Bani Israil di zaman Gideon (Thalut), dua ratus tahun sebelum Nabi Dawud a.s. dan yang akhirnya tercapai di zaman Nabi Dawud a.s.
Kata-kata "sesudah Musa" dalam ayat sebelumnya (Qs.2:247) menunjukkan bahwa peristiwa itu termasuk masa permulaan ketika kaum Bani Israil sebagai bangsa mulai mengambil bentuk yang pasti dalam sejarah. Sebab dua ratus tahun sesudah Nabi Musa a.s. mereka pecah-belah dalam berbagai suku, tak mempunyai raja dan tidak pula angkatan perang.
Dalam tahun 1256 sebelum Masehi, disebabkan oleh kedurhakaan mereka, Allah Ta’ala membiarkan mereka jatuh ke tangan kaum Midian yang menjarah dan menindas mereka selama 7 tahun dan mereka terpaksa mencari perlindungan di dalam gua-gua (Hakim-hakim 5:1-6). "Maka Sesungguhnya tatkala Bani Israil itu berseru kepada Tuhan dari sebab orang Midian itu, maka disuruhkan Tuhan seorang yang nabi adanya kepada Bani Israil" (Hakim-hakim 6:7-8), "dan seorang malaikat Tuhan datang kepada Gideon, menunjuknya menjadi raja dan menjadikannya pertolongan Ilahi” .... "Maka sembahnya kepadanya: Ya Tuhan dengan apa gerangan dapat hamba melepaskan orang Israil? Bahwasanya bangsa hamba terkecil dalam suku Manasye, maka hamba ini anak bungsu di antara orang isi rumah bapak hamba" (Hakim-hakim 6:15).
Hal ini cocok dengan keterangan yang diberikan dalam ayat yang dibahas ini tentang Thalut. Apa yang menjadikan persamaan Thalut dengan Gideon lebih pasti lagi ialah, memang di zaman Gideon dan bukan di zaman Saul, kaum Bani Israil mendapat cobaan dengan perantaraan air, dan gambaran yang diberikan oleh Bible (Hakim-hakim 7:4-7) tentang cobaan itu memang sama dengan gambaran Al-Quran.
Dari Hakim-hakim 7:6-7 kita mengetahui bahwa sesudah cobaan tersebut di atas, orang-orang yang tinggal bersama-sama dengan Gideon hanya ada 300 orang Sangat menarik untuk diperhatikan, ialah seorang sahabat Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda, "Kami berjumlah 313 orang dalam perang Badar, dan jumlah itu sesuai dengan jumlah orang yang mengikuti Thalut (Tirmidzi, bab Siyar). Hadits itu pun mendukung kesimpulan bahwa Thalut itu adalah Gideon.
Apa yang selanjutnya menguatkan persamaan antara Thalut dengan Gideon ialah, kata itu berasal dari akar-kata, yang dalam bahasa Ibrani berarti menumbangkan (Encyclopaedia Biblica) atau menebang (Jewish Encyclopaedia). Jadi, Gideon berarti. "orang yang menebas musuh hingga merobohkannya ke tanah" dan Bible sendiri mengatakan tentang Gideon sebagai pahlawan yang perkasa" (Hakim-hakim 6:1-2).

Arti Tabut

Tabut berarti, (1) peti atau kotak; (2) dada atau rusuk dengan apa­-apa yang dikandungnva seperti jantung dan sebagainya (Lexicon Lane); (3) hati yang merupakan gudang ilmu, kebijakan. dan keamanan (Mufradat). Para ahli tafsir berselisih tentang makna kata Tabut dan Bible menvebutnva sebagai sebuah perahu atau peti, dan gambaran yang diberikan oleh Al-Quran tegas menunjukkan bahwa kata itu telah dipakai di sini dalam arti "hati" atau "dada."
Penjelasan tentang Tabut dalam ayat ini "yang di dalamnya mengandung ketenteraman dari Tuhan-mu" tak dapat dikenakan kepada bahtera (perahu), sebab jauh dari memberi ketenteraman dan kesejukan hati kepada orang lain. Perahu yang disebut oleh Bible tidak dapat melindungi kaum Bani Israil terhadap kekalahan, pula tidak melindunginya sendiri, sebab perahu itu dibawa lari oleh musuh! Malahan Saul yang membawa perahu itu dalam peperangan menderita kekalahan­-kekalahan yang parah, sehingga bahkan musuhnya pun menaruh kasihan kepadanya dan ia menemui ajalnva dengan penuh kehinaan.
Perahu demikian tak mungkin merupakan sumber ketenangan bagi kaum Bani Israil. Apa yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada mereka ialah hati yang penuh dengan keberanian dan ketabahan, sehingga sesudah ketenangan tersebut turun kepada mereka. mereka dengan berhasil membalas serangan musuh dan menimpakan kekalahan berat kepada mereka.
Karunia lain yang diberikan Allah Ta’ala kepada Bani Israil disinggung dalam kata pusaka. Allah Ta’ala meresapi had mereka dengan sifat-sifat mulia yang menjadi watak nenek-moyang mereka, keturunan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.. Pusaka yang ditinggalkan oleh anak-cucu Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. tidak terdiri atas hal-hal kebendaan, melainkan yang dimaksudkan ialah akhlak-akhlak baik yang dengan itu mereka mendapat karunia menjadi leluhur-leluhur agung mereka.
Selanjutnya Allah Ta’ala menjelaskan tentang cara-Nya melakukan pemisahan orang-orang yang teguh keyakinannya dari orang-orang yang lemah keyakinan mereka dengan perantaraan sungai, firman-Nya:
Maka tatkala Thalut berangkat dengan balatentaranya, berkata ia: "Sesungguhnya Allah akan mencobaimu dengan sebuah sungai, lalu barangsiapa minum darinya ia bukan dariku, dan barangsiapa tidak mencicipinva maka sesungguhnya ia dariku, kecuali orang yang menciduk seciduk dengan tangannya.” Tetapi, mereka minum darinya kecuali sedikit dari mereka. Maka tatkala ia (Thalut) dan orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya, mereka [yang minum] berkata, "Tak ada kekuatan pada kami hari ini untuk menghadapi Jalut dan bala-tentaranya.” Tetapi mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, "Banyak golongan kecil telah mengalahkan golongan besar dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang sabar." (Al-Baqarah [2]:250).
Kekecualian tentang izin untuk minum air seciduk tangan, hal itu mengandung dua tujuan:
(1) memberikan kepada pasukan yang sedang berderap maju itu sedikit kelegaan jasmani dengan mengizinkan mereka membasahi kerongkongan mereka yang kekeringan, tetapi di samping, itu mencegah mereka dari minum sebebasnya yang bisa mendinginkan semangat mereka dan menjadikan mereka lengah terhadap musuh.
(2) membuat cobaan itu iebih menggelitik perasaan, sebab acapkah terjadi, lebih mudah bagi seseorang untuk menjauhkan diri sama sekali dari sesuatu daripada mencicipinya dalam kadar terbatas sekali.
Lihat Hakim-hakim 7:5-6. Kata nahar (sungai) berarti pula limpah-ruah. Dalam pengertian tersebut, ayat ini berarti bahwa mereka akan diuji oleh "limpah-ruah", mereka yang menyerah kepada godaannya biasanya menjadi tidak mampu melaksanakan pekerjaan Allah Ta’ala, tetapi mereka yang memakainya dengan mengekang nafsu biasanya meraih kemenangan.

Arti Jalut dan Bala-tentaranya

Kata Jalut itu nama sifat yang artinya seseorang atau satu kaum yang sukar diperintah dan berkeliar sambil menjarah-rayah dan mengganggu orang-orang lain. Dalam Bible nama yang sejajar ialah Goliat (1 Samuel 17:4) yang berarti ruh-ruh yang suka berlari-lari, menyamun dan membinasakan atau pemimpin" atau raksasa (Encyclopaedia Biblica & Jewish Encyclopaedia).
Bible memakai nama ini mengenai seseorang, padahal sesungguhnya kata itu menyandang arti segerombolan perampok yang kejam, sungguhpun dapat pula dikenakan kepada perseorangan-perseorangan tertentu yane melambangkan ciri khas golongan itu. Al-Quran agaknya telah mempergunakan kata itu dalam kedua arti itu daiam ayat yang sedang dibicarakan. Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman:
Dan ketika mereka maju untuk menghadapi Jalut dan balatentaranya, mereka berkata: "Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkan ketabahan atas kami, dan teguhkan langkah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.” Maka mereka mengalahkan mereka itu dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut dan Allah memberinya kedaulatan, kebijaksanaan, dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. Dan sekiranya Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan, tetapi Allah mem­punyai limpahan karunia atas seluruh alam. Inilah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada angkau (Rasulullah) dengan haq, dan se­sungguhnya engkau seorang dari rasul-rasul. (Al-Baqarah [2]:251-253).
Jalut yang disebut dalam ayat ini tidak bermakna seseorang melainkan suatu kaum, sedang kata balatentara menunjuk kepada para pembantu dan sekutu kaum itu. Bible menunjuk Jalut sebagai sebutan untuk kaum Midian, yang menjarah dan menyerang Bani Israil dan membinasakan tanah mereka untuk beberapa tahun (Hakim-hakim 6:1-6). Kaum Amalek dan semua suku bangsa di sebelah timur membantu kaum Midian dalam penyerangan mereka (Hakim-hakim 6:1-3) dan merupakan balatentara yang disebut dalam ayat ini.
Thalut atau Gideon berhasil mengalahkan Jalut atau kaum Midian, tetapi kekalahan besar yang disebut dalam avat ini dengan terbunuhnva Jalut terjadi di zaman Nabi Dawud a.s., kira-kira dua ratus tahun kemudian. Menurut Bible orang yang dikalahkan oleh Nabi Dawud a.s. adalah Goliat (1 Samuel 17:4) yang cocok dengan Jalut. Mungkin nama sifat yang diberikan oleh Al-Quran kepada kaum itu pun disandang oleh pemimpin mereka di zaman Nabi Dawud a.s..
Kata-kata itu “Dan sekiranya Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan” melukiskan dengan ringkas seluruh falsafah ihwal segala bentuk perang yang dilancarkan demi kebenaran dan keadilan. Perang hanya dipakai sebagai wahana untuk mencegah kekacauan dan menegakkan kembali keamanan; dan bukan menimbulkan kekacauan, mengganggu keamanan, dan merampas kemerdekaan bangsa-bangsa lemah.

(Bersambung).
Rujukan: The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar