Jumat, 02 Oktober 2009

Nabi Yusuf a.s. Dijual ke Mesir


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 

  KISAH-KISAH MONUMENTAL 

  DALAM AL-QURAN


  Nabi Yusuf a.s. Dijual ke Mesir 

oleh  
Ki Langlang Buana Kusuma

Sehubungan dengan pembuangan Nabi Yusuf a.s. oleh saudara-saudara tuanya ke dalam sebuah sumur yang dalam, kemudian Allah Ta’ala berfirman:
Dan datanglah suatu kafi­lah, lalu mereka mengirim peng­ambil air mereka, lalu ia me­nurunkan timbanya ke dalam sumur itu. Ia berkata, ”Wahai, ada kabar suka! Ini seorang anak laki-laki!" Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya dengan harga yang murah, beberapa dirham, dan mereka tidak peduli mengenai itu. (Yusuf [12]:17-21).
Arti ucapan mereka “Wahai, ada kabar suka” adalah bahwa para anggota kafilah memandang Nabi Yusuf a.s. sebagai harta yang sangat berharga. Sedangkan kalimat “mereka menjualnya dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham, dan mereka tidak peduli mengenai itu”, bahwa mereka tidak mengetahui bahwa sebenarnya Nabi Yusuf a.s. merupakan “orang yang sangat berharga” dalam pandangan Allah Ta’ala, karena beliau pada akhirnya akan menjadi orang kepercayaan raja Mesir (Qs.12:55-58), walau pun terlebih dulu Nabi Yusuf a.s. harus tinggal dalam penjara beberapa tahun lamanya. Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman:
Dan orang yang membelinya dari Mesir berkata kepada istrinya, "Berilah dia tempat tinggal yang terhormat. Boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita atau kita akan angkat dia sebagai anak." Dan demikianlah Kami memberi Yusuf kedudukan di negeri itu, dan supaya Kami mengajarkan kepadanya ta'bir mimpi-mimpi. Dan Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan setelah ia sampai kepada kedewasaannya Kami berikan kepadanya kebijaksanaan dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang­-orang yang berbuat ihsan. (Yusuf [12]:22-23).
Orang Mesir yang telah membeli Nabi Yusuf a.s. dikenal dalam pustaka Yahudi dengan nama Potifar (Enc. Bib. & Kejadian 39:1). Ia adalah komandan barisan pengawal raja, seorang perwira yang tinggi pangkatnya di zaman dahulu.
Walau pun maksud Potifar membeli Nabi Yusuf a.s. adalah dengan tujuan yang baik, akan tetapi ketampanan wajah dan penampilan Nabi Yusuf a.s. yang luar biasa, terbukti bukan saja merupakan ujian berat bagi istri pejabat tinggi tersebut, bahkan bagi Nabi Yusuf a.s. sendiri, yakni beliau harus berurusan dengan ulah buruk para istri bangsawan Mesir yang tergoda oleh ketampanan dan keagungan penampilan Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
Dan perempuan yang di rumahnya dia (Yusuf) tinggal berusaha menggodanya untuk berbuat yang berlawanan dengan kehendak dia (Yusuf). Dan perempuan itu menutup semua pintu rumahnya dan berkata, "Marilah kepadaku." Ia (Yusuf) berkata, "Aku mohon perlindungan ke­pada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Rabb-ku (Tuhan-ku) Yang telah memberiku tempat tinggal yang baik, sesung­guhnya orang-orang aniaya tidak akan sukses." Dan sesungguhnya perempuan itu telah bertekad keras terhadapnya untuk menggodanya dan ia (Yusuf) pun telah bertekad keras untuk menolak keinginan perempuan itu. Jika sekiranya la tidak melihat Tanda yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya). Demikianlah supaya Kami jauhkan dia dari keburukan dan kerendahan budi. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf [12]:24-25).

Beratnya Menghadapi Godaan Kehidupan Duniawi

Raawada-hu berarti: ia berusaha atau berikhtiar untuk memalingkan dia kepada atau dari sesuatu hal, dengan bujukan atau tipu daya (Lexicon Lane), sedangkan haita berarti, "ayolah atau tampillah" atau "cepat-cepatlah" dan ungkapan haita laka berarti, "ayolah engkau" atau "marilah sekarang" atau "ayo aku telah siap untuk engkau" atau "aku siap untuk menerimamu" (Lexicon Lane & Mufradat).
Ayat ini menunjukkan bahwa perempuan yang berusaha menggoda Nabi Yusuf a.s. itu gagal dalam usahanya, dan bahwa Nabi Yusuf a.s. berhasil melawan bisikan buruk dari perempuan itu. Kata-kata innahu rabbi (Dia adalah Tuhan-ku ) menunjuk kepada Allah Ta’ala, dan bukan kepada majikan Nabi Yusuf a.s. yang berbangsa Mesir itu (Potifar), sebagaimana dengan keliru disangka oleh beberapa ahli tafsir.
Istri majikan Nabi Yusuf a.s. bermaksud melakukan sesuatu dengan Nabi Yusuf a.s. (berbuat serong). Begitu juga Nabi Yusuf a.s. bertekad melakukan sesuatu mengenai perempuan itu, yaitu melawan upaya buruknya itu. Bahwa Nabi Yusuf a.s. tidak berniat melakukan sesuatu yang buruk telah jelas dari ayat yang sebelumnya. Tujuan beliau satu-satunya hanya untuk mencegah perempuan itu dari maksud buruknya.
Dengan "Tanda nyata" dimaksudkan Tanda-tanda dari langit, Nabi Yusuf a.s. telah menyaksikan sebelumnya, ialah suatu rukya ajaib yang mengisyaratkan keagungan beliau kelak (Qs.12: 5), wahyu yang beliau terima ketika beliau dimasukkan ke dalam sumur, yang pula menunjuk kepada keagungan dan kemuliaan beliau di masa kemudian (Qs.12: 16) dan juga kepada peristiwa dikeluarkannya beliau dari dalam sumur itu dalam keadaan hidup.
Persis seperti adanya usaha untuk merayu Nabi Yusuf a.s. supaya keluar dari jalan kesucian dan kejujuran, demikian pula para pemuka kaum musyrikin Mekkah telah gagal dalam usaha mereka untuk membuat Nabi Besar Muhammad saw. meninggalkan kegiatan menablighkan tauhid Ilahi dengan menawarkan bahwa mereka akan men jadikan beliau raja, atau mengumpulkan harta-kekayaan yang besar untuk beliau; dan memberikan kepada beliau gadis paling cantik di seluruh Arab untuk untuk dinikahi. Tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Nabi Besar Muhammad saw. seraya mengucapkan kata-kata bersejarah:
"Sekalipun bila kamu letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti dari menyebarkan tauhid Ilahi.” (Hisyam).
Peristiwa bujuk-rayu istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s. tersebut pada hakikatnya merupakan tekad yang telah dicanangkan oleh Iblis untuk melakukan penghadangan di jalan Allah Ta’ala terhadap Adam dan para pengikutnya, firman-Nya:
Ia (Iblis) berkata, “Karena Engkau telah menyatakan aku sesat, niscaya akan aku akan duduk menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus, kemudian niscaya akan kudatangi mereka dari depan, dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang bersyukur” (Al-A’raaf [7]:17-18).
Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman:
Keduanya lari berlomba menuju pintu, dan perempuan itu telah merobek kemeja dia dari belakang, dan kedua mereka dapati suami perempuan itu sudah ada di depan pintu. Berkatalah perempuan, "Apakah hukumannya bagi seseorang yang hendak berbuat keburukan terhadap istri engkau kecuali dipenjarakan atau diberi azab yang pedih?" Ia (Yusuf) berkata, “Dia­lah yang telah berusaha meng­godaku berlawanan dengan ke­hendakku." Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberi kesaksian, “Jika kemejanya sobek di bagian depan maka perempuan itu berkata benar dan ia (Yusuf) termasuk orang-orang yang dusta. Tetapi jika kemejanya sobek di bagian belakang maka perempuan itu berdusta dan ia (Yusuf) termasuk orang-orang yang benar." Maka tatkala dia (Potifar) melihat kemeja dia (Yusuf) sobek di bagian belakang, ia berkata, “Sesungguhnya ini adalah tipu-daya engkau (perempuan). Sesungguhnya tipu-daya perempuan sangat besar. Hai Yusuf, berpalinglah dari [kejadian] ini, dan engkau (perempuan) mohonlah ampunan atas dosa engkau, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah (Yusuf [12]:26-30).
Dalam usahanya melindungi istrinya sejauh mungkin, Potifar telah menuduh kaum perempuan sebagai licik dan curang:
Ia berkata, “Sesungguhnya ini adalah tipu-daya engkau (perempuan). Sesungguhnya tipu-daya perempuan sangat besar.”
Allah Ta’ala telah mengabadikan perkataan Potifar tersebut di dalam Al-Quran, oleh karena itu tentu perkataan tersebut mengandung kebenaran sebab:
  1. Menurut Bible, syaitan tidak langsung memperdaya Adam a.s., melainkan melalui istrinya atau melalui anggota jamaah beliau (Kejadian 3:1-7).
  2. Allah Ta’ala pun telah memperingatkan para suami agar berlaku waspada terhadap istri-istri dan anak-anak mereka, karena di antara mereka ada yang merupakan musuh (Qs.64:15-16).
Konon menurut cerita, istri Potifar -- yang dikenal di kalngan umat Islam dengan nama Zulaiha -- tersebut sangat cantik, sehingga walau pun dalam kasus tersebut ia adalah pihak yang bersalah, akan tetapi Potifar bukan saja tidak berani berlaku keras kepada istrinya, bahkan ia menumpahkan kekesalannya kepada umumnya kaum perempuan.
Perlu juga diperhatikan, bahwa tidak benar anggapan bahwa kemudian Zulaikha tersebut menjadi istri Nabi Yusuf a.s., sebab mustahil seorang nabi Allah akan menjadikan sebagai istri, seorang perempuan yang berlaku khianat terhadap suaminya , sebagaimana doa yang biasa dipanjatkan oleh petugas KUA setelah selesai melangsungkan aqad nikah” kedua mempelai: “....kamaa alafta Yusuf ‘alaa Zulaikha...” sebab yang tergila-gila itu bukan Nabi Yusuf a.s. melainkan istri Potifar itulah yang tergila-gila kepada Nabi Yusuf a.s. (Qs.12:51-53). 

(Bersambung). 
Rujukan: The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid


Tidak ada komentar:

Posting Komentar